Rabu, 16 September 2009

Pengertian Menyembah kepada Allah

Pengertian Menyembah kepada Allah
Senin, 27/07/2009 12:51 WIB
Assalammu'alaikum W W
Ustadz yang di rahmati Allah
beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar sebuah tausiyah dari seorang ustadz, beliau menerangkan mengenai ayat dalam surat al Fatihah yaitu "Hanya kepada Engkaulah kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" dan beliau menjelaskan (lebih kurang yang saya pahami) bahwa yang dimaksud dalam penyembahan disini bukan hanya ritual tetapi juga jika seseorang mencintai sesuatu melebihi cintanya kepada Allah maka ia telah menyembah sesuatu itu ataupun jika ia mentaati sesuatu lebih dari mentaati Allah maka ia telah menyembah sesuatu itu. Pertanyaan saya jadi apakah menyembah itu artinya mencintai atau mentaati?
Fajli Mustafa
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Fajli yang dirahmati Allah swt
Firman Allah swt :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah : 5)
Menyembah menurut bahasa berarti ketundukan, disebutkan thariqun mu’abbad wa bighoiri mu’abbad (jalan yang ditundukan atau sering dilalui dan tidak sering dilalui, pen). Sedangkan menurut syariat berarti ungkapan yang mencakup kesempurnaan cinta, tunduk dan rasa takut.
Dan didahulukannya maf’ul (obyek), yaitu إياك (hanya kepada-Mu) dan juga pengulangan kata tersebut adalah untuk memberikan perhatian serta pembatasan, yang berarti kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Mu, kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu, inilah kesempurnaan taat. Dan seluruh ajaran agama kembali kepada dua makna tersebut, hal ini seperti penuturan sebagian ulama salaf,”Al Fatihah adalah rahasia al Qur’an dan rahasia itu ada pada kalimat إياك نعبد وإياك نستعين “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah : 5), kalimat pertama adalah berlepas diri dari kesyirikan sedangkan kalimat yang kedua adalah berlepas diri dari daya dan upaya serta menyerahkannya kepada Allah swt.
Makna yang seperti ini banyak terdapat di beberapa ayat didalam al Qur’an, seperti firman-Nya :
وَلِلّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud : 123)

Artinya : “Katakanlah: "Dia-lah Allah yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal.” (QS. Al Mulk : 29)

Artinya : “(Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah dia sebagai Pelindung.” (QS. Al Muzammil : 29) – (Tafsirul Qur’anil Azhim juz I hal 135 – 136)
Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa kalimat إياك نعبد tegak diatas empat landasan demi mendapatkan kecintaan dan keredhoan Allah dan Rasul-Nya, seperti dua perkataan yaitu lisan dan hati serta perbuatan hati dan anggota tubuh. Ibadah merupakan nama yang menyatukan seluruh tingkatan yang empat itu dan orang-orang yang hanya menyembah Engkau (Allah) dengan sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki keempat hal tersebut.
Perkataan hati adalah keyakinan terhadap apa yang diberitakan Allah swt tentang diri-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, para malaikat-Nya dan pertemuan dengan-Nya melalui lisan para rasul-Nya.
Perkataan dengan lisan adalah memberitakan tentang-Nya dan menyeru kepada-Nya, membela-Nya menjelaskan kebatilan berbagai perkara bid’ah yang bertentangan dengan-Nya, mengingat-Nya serta menyampaikan perintah-perintah-Nya.
Perbuatan hati seperti mencintai-Nya, bertawakal kepada-Nya, kembali kepada-Nya, takut dengan-Nya, berharap kepada-Nya, menyucikan keagamaannya untuk-Nya, bersabar dalam menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai kemampuannya, rela terhadap-Nya, berwala (loyal) dengan-nya, bermusuhan karena-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan lainnya yang termasuk didalam perbuatan-perbuatan hati baik yang wajibnya yang ini lebih wajib daripada perbuatan-perbuatan anggota tubuh maupun yang mustahab (dicintai) nya yang lebih dicintai Allah daripada amal-amal anggota tubuh yang mustahab. Karena amal-amal anggota tubuh yang mustahab tanpa keberadaan amal-amal hati maka ia akan menjadi tidak bermanfaat atau sedikit manfaatnya.
Adapun perbuatan-perbuatan anggota tubuh, seperti shalat, jihad atau langkah-langkah kaki untuk shalat jum’at, shalat berjama’ah, membantu orang tua, atau berbuat baik kepada orang lain.
Maka إياك نعبد mengikat keempat hal tersebut dan إياك نستعين merupakan tuntutan permintaan tolong kepada-Nya..
Dan sesunguhnya seluruh Rasul menyeru kepada إياك نعبد وإياك نستعين artinya bahwa seluruh mereka menyeru kepada peng-esa-an Allah dan keikhlasan didalam penyembahan kepada-Nya dari mulai Rasul yang pertama hingga yang terakhir. (Madarijus Salikin juz I hal
Dari dua pengertian ibadah yang diutarakan oleh Ibnu Katsir dan Ibnul Qoyyim diatas jelas bahwa termasuk makna ibadah adalah kecintaan dan ketaatan. Sehingga seorang yang memberikan cinta dan ketaatan-Nya kepada selain Allah swt melebihi daripada kecintaan dan ketaatannya kepada Allah swt maka ia telah melakukan sebuah kemusyrikan, sebagaimana firman-Nya :
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ
Artinya : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah..” (QS. Al Baqoroh : 165)
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya : “Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan Nya". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah : 24)
Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Senin, 20 Juli 2009

Tebar Benih, Berdoa, Dan Terimalah Taqdir

Tidak ada makhluk melata di muka bumi ini kecuali jatah penghidupannya telah dijamin Allah (Hud: 6). Terlebih lagi manusia dengan kapasitasnya sebagai pemakmur bumi dan makhluk paling mulia. Yang demikian itu agar kehidupan ini senantiasa berjalan seperti yang dikehendaki Sang Pencipta. Meski demikian, jatah rezki itu tidak serta-serta mendatangi makhluk tersebut tanpa ada upaya untuk meraihnya. Maka berupaya untuk mendapatkan jatah penghidupannya menjadi suatu keniscayaan. Perlu ada upaya dan sebab meraih bagian itu. Jika ingin mendapatkan ikan, perlu menebar jala atau memasang kail.

Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari sejumlah ibadah yang dipersembahkan kepada Allah. Seberapa hitam tanda di keningnya karena lama dan seringnya bersujud. Dan seberapa lama ia berdiam di pojok masjid dengan tasbih yang dimainkan oleh jemarinya dan mulut yang tak henti-henti mengumumkan kalimat-kalimat pujian kepada Sang Pencipta. Seseorang berupaya mendapatkan jatah rezki itu termasuk perbuatan mulia. Semakin berat seseorang berupaya, semakin mulia dia dan semakin disukai Allah. Yang paling penting dalam hal ini adalah proses mendapatkannya. Sebaliknya, bermalas-malasan dalam mengoptimalkan potensi demi mendapatkan karunia Allah tersebut adalah perbuatan hina dan tidak disukai Allah.

Kemuliaan Berusaha

Al-Qur’an dan hadits Nabi banyak menyampaikan anjuran bahkan pujian bagi orang yang berusaha mendapatkan rezki.

Allah berfirman,

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jum’ah: 10).

Inilah konsep tawazun yang ditegaskan oleh manhaj Islam. Tawazun di antara tuntutan hidup di muka bumi ini. Di antara kerja, aktivitas, upaya, dan mencari nafkah pada suatu saat dan pada saat yang lain mengisolasi ruh dan hati dari semua kesibukan itu dalam kekhusyukan dzikir kepada Allah, demikian Penulis tafsir Fii Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, mengomentari ayat tersebut. (Fii Zhilalil Qur’an)

Jika seseorang dapat menghidupi dirinya sendiri dan tanpa menggantungkannya kepada orang lain. Apatah lagi melalui usahanya banyak orang bergantung kepadanya. sabda Rasulullah saw.,

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Khalid bin Ma’dan meriwayatkan dari Miqdam ra. dan dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Tidak ada seorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan nabi Daud as. makan dari hasil kerja tangannya. (Bukhari).

Bisa jadi seseorang dianggap hina oleh kaca mata dunia karena profesinya, namun sesungguhnya menurut parameter akhirat ia sangat mulia, bahkan lebih mulia ketimbang mereka yang memiliki status sosial tinggi karena melimpahnya kekayaan bumi namun bukan dari perasan peluhnya sendiri. Rasulullah membandingkan kemuliaan orang yang mencari kayu bakar dengan yang hanya meminta-minta kepada manusia. Tentu saja jika sebuah usaha dibingkai dengan bingkai ibadah kepada Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ ثُمَّ يَغْدُوَ أَحْسِبُهُ قَالَ إِلَى الْجَبَلِ فَيَحْتَطِبَ فَيَبِيعَ فَيَأْكُلَ وَيَتَصَدَّقَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ

“Sekiranya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu berangkat (perawi: saya kira beliau mengatakan) ke gunung kemudian mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya dan memakan (dari hasilnya) serta menyedekahkannya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta orang.” (Bukhari).

Abu Hamid Al-Ghazi menyebutkan dalam Ihya’-nya, bahwa Rasulullah pernah duduk-duduk bersama para sahabatnya pada suatu hari. Tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda yang berkulit kasar dan kuat. Pagi-pagi ia bekerja. Mereka (para sahabat) berkomentar, “Sayang sekali orang ini, kalau saja masa mudanya dan kekerasan tubuhnya itu berada di jalan Allah. Rasulullah bersabda, “Jangan berkata seperti itu, sebab jika ia berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak meminta-minta serta mencukupkan dirinya dari orang lain, maka ia berada di jalan Allah. Atau jika ia bekerja untuk kedua orang tua yang lemah dan keluarga yang lemah untuk membuat mereka kaya dan cukup, maka ia berada di jalan Allah. Namun kalau ia bekerja untuk berbangga diri dan berbanyak-banyak harta, maka ia berada di jalan setan.

Namun, peran manusia dalam masalah rezki hanya sebatas berusaha dan mengoptimalkan potensi yang Allah berikan kepadanya. Menggerakkan semua kemampuan dan menjadikan pengalaman sebagai bekal untuk menghadapi liku-liku di dunia usahanya. Menyusun strategi yang baik dan menutupi berbagai kekurangan yang mungkin menjadi kendala. Juga mengevaluasi kinerja yang mungkin menjadi penyebab kegagalan.

Hasil dari usahanya tidak dapat dipastikan dengan kalkulasi manusiawinya. Itu merupakan hak prerogatif Allah yang memberikan jatah kepada masing-masing hamba. Dan selalu ada hikmah di balik setiap kuantitas jatah itu. Hal ini sangat terkait dengan kedudukan harta benda sebagai ujian. Diberikan dan ditahannya harta kepada seseorang pasti demi kebaikan hamba tersebut. Barangkali seseorang, karena ketidaktahuannya, mengira bahwa dirinya layak mendapatkan jatah lebih dari orang lain. Namun Allah yang lebih tahu tentang hamba-Nya lebih tahu pula seberapa banyak jatah yang dibutuhkan masing-masing hamba.

Perlu digaris-bawahi di sini, bahwa persoalan jatah adalah perkara gaib dan manusia tidak dibebankan untuk mengetahui sebelum jatah itu benar-benar berada dalam genggaman tangannya. Maka manusia diberi kebebasan untuk memasang target dunia yang ingin digapainya dan diberi keleluasaan berupaya mengejar target itu, tentu saja dengan cara dan etika yang telah ditetapkan panduannya oleh syariah.

Karena kegaiban hasil dari sebuah usaha itulah seorang hamba wajib berharap dan berdoa kepada Allah. Tidak layak baginya untuk menyandarkan hasil kepada jerih payahnya semata. Betapa banyak manusia menetapkan strategi untuk mencapai target yang telah ditetapkannya, namun tangan-tangan taqdir menghalanginya sehingga ia terhalang untuk mencapai target tersebut.

Sebagai implementasi dari surat Al-Jumuah ayat 10 tadi, seorang sahabat Nabi saw., Arak bin Malik ra, setiap kali usai shalat Jum’at, ia keluar dan berhenti di pintu masjid seraya berdoa,

“ Ya Allah, aku telah menyambut seruan-Mu, shalat melaksanakan kewajiban-Mu, lalu aku menyebar sebagaimana perintah-Mu. Maka berilah rezki dari karunia-Mu karena Engkaulah sebaik-baik pemberi rezki. “ (Ibnu Katsir).

Doa setelah atau ketika bekerja adalah representasi seorang hamba terhadap keterbatasan dirinya sekaligus pengakuannya akan kekuasaan Rabbnya. Sebagai bentuk pengesaan Rububiyah Allah. Bahwa Allah-lah Zat yang memberi rezki. Di tangan-Nya segala kebaikan. Allah berhak memberikannya kepada siapa yang dikehendaki dan menahannya dari siapa yang dikehendaki.

Doa dan Taqdir

Mungkin ada terusik oleh sebuah pertanyaan, apakah doa yang dipanjatkan seseorang ketika ia bekerja akan mengubah jatah rezkinya yang merupakan taqdir dari Allah?

Di kitabnya, Ad-Daa’ wa Ad-Dawa, Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah menjawab, “ Taqdir itu ditentukan Allah melalui beberapa sebab. Dan di antara sebabnya adalah doa. Allah tidak mentaqdirkan sesuatu tanpa sebab. Allah juga menentukan sebab itu. Manakala seorang hamba melakukan sebab itu, maka taqdir itu pun terjadi. Seperti halnya taqdir kenyang dan hilangnya dahaga dengan makan dan minum. Taqdir lahirnya seorang anak melalui proses perkawinan. Taqdir makan daging binatang dengan menyembalihnya terlebih dahulu. Termasuk taqdir masuk surga dengan amal perbuatan dan masuk neraka dengan amal perbuatan. Maka, doa merupakan sebab paling penting untuk menggapai taqdir.”

Doa adalah ibadah yang disyariatkan Allah kepada hamba agar dalam berinteraksi dengan Allah, perasaan harap dan keinginan kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tertancap di dalam dirinya. Dan jika seseorang mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan dambaannya serta takut kehilangan dambaan tersebut, tentu hal itu akan semakin menggerakkannya untuk berbuat dan mengoptimalkan usahanya.

Hasil yang dicapai tidak selamanya berbanding luruh dengan usaha. Dan keimanan seseorang kepada taqdir membuatnya menerima hasil dari semua usahanya, baik sesuai dengan keinginannya atau tidak.

Keimanan kepada taqdir yang berlaku bagi dirinya setelah melakukan ikhtiar manusiawi adalah puncak keimanan. Kebaikan dan keburukan yang menimpa tidak membuatnya berpaling dari menempuh jalan positif menuju kebaikan. Memilih taqdir baik adalah bagian dari ikhtiar yang dianjurkan dalam Islam.

Suatu ketika Umar bin Khatthab menginstruksikan pasukannya yang sedang melaksanakan operasi militer agar berpindah dari tempat yang diindikasikan terkena epidemi kolera menuju tempat lain. Salah seorang pasukan berkomentar, “ Apakah Anda ingin berlari dari taqdir Allah, wahai Umar?” Khalifah kedua ini menjawab, “ Ya, kita berlari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah.”

Sangat sejalan dengan apa yang dianjurkan Rasulullah saw.,

عَنْ عِمْرَانَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِيمَا يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ قَالَ كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Imran bertanya, “ Ya Rasulullah, untuk orang-orang beramal? “. Beliau menjawab, “ Masing-masing orang akan dipermudah menuju taqdirnya.” (Muttafaq Alaihi)

Ali ra. berkata, “ Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak bersih keimanan di dalam hatinya sampai dia yakin seyakin yakinnya dan tidak ragu sedikit pun, bahwa apa yang menimpa dirinya bukan karena kesalahan yang dilakukannya dan kesalahan yang dilakukan tidak menyebabkannya tertimpa musibah serta meyakini semua takdir yang terjadi.”

Dus, ketika benih telah disemai, air telah disiramkan, pupuk telah ditebar, berdoalah. Lalu apapun yang dihasilkan, terimalah dengan penuh ketulusan sebagai karunia Zat yang mengeluarkan buah dari bunganya. Wallahu A’lam

sumber:

dakwatuna.com

Rabu, 08 Juli 2009

Alhamudilliah ... Akhirnya sampai juga di Danau maninjau , Agam - Sumatera Barat , setelah naik menanjak berkelok - kelok dan turun meluncur , juga berkelok kelok , bahkan ada 44 kelok ! Dengan jurang terjal dalam di kanan - kiri , memiriskan hati !
"kebun belangkang" Bimasakti - kopo , dengan pemandangan sawah dan gunung Pangrango.
Menyegarkan jiwa - raga .

Bulu' Dua Soppeng
Dua buah bukit yang menjadi pintu masuk kota soppeng .
Transit sebentar di Bandara Mutiara . Ada yang tahu dimana ? Yaa.. di Palu , Ibukota Sulawesi tengah . Kenapa Mutiara , kan biasanya nama tokoh setempat yang banyak jasanya di daerah tersebut ? Tidak punya tokoh ? Akh malu ah... pasti ada ...! Lantas ...
Taman bunga Ibu Tien Sooeharto di Puncak
Kenangan rekon API & APII. di Bimasakti .